DG NUSANTARA: Rupiah Melemah Imbas Demo Ricuh Jakarta & Tekanan Global, Bayangan Krisis Asia Mengintai
![]() |
Petugas menhitung uang asing di penukaran uang DolarAsia, Blok M, Jakarta |
Kondisi Terkini Rupiah: Antara Demo Ricuh dan Tekanan Dolar
Rupiah kembali menjadi sorotan pasar keuangan internasional. Pada Jumat, 29 Agustus 2025, nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp16.485 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv. Angka ini mencatat pelemahan harian 0,87%, menjadi yang terdalam sejak 8 April 2025.
Situasi ini tidak hanya mengguncang pelaku pasar domestik, tetapi juga memicu kekhawatiran investor global. Rupiah bahkan tercatat sebagai salah satu mata uang Asia dengan performa terburuk pekan ini.
Faktor pemicu melemahnya rupiah bukan hanya satu. Ada kombinasi tekanan politik dalam negeri akibat gelombang demonstrasi ricuh di Jakarta, ditambah faktor eksternal berupa profit taking investor dan meningkatnya permintaan dolar untuk pembayaran utang luar negeri serta impor.
👉 Baca juga: Pengusaha Khawatir Demo Rusuh, Bayangan Mei 1998
Demonstrasi Ricuh Menekan Sentimen Pasar
Gelombang aksi massa berlangsung sejak Senin (25/8/2025). Puncaknya terjadi pada Kamis (28/8), ketika insiden tragis menimpa seorang pengemudi ojek online yang tertabrak kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Selatan.
Kejadian itu memicu eskalasi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Mabes Polri, dan Polda Metro Jaya. Bentrokan tak terelakkan, dan beberapa titik strategis di Jakarta lumpuh karena blokade massa.
Bagi investor, situasi politik yang tidak stabil adalah "alarm merah". Capital outflow pun meningkat, menekan rupiah lebih dalam.
Tekanan Global: Profit Taking & Permintaan Dolar
Menurut Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, demo bukan satu-satunya penyebab pelemahan rupiah. Pada akhir bulan, investor cenderung melakukan profit taking atau realisasi keuntungan. Kebetulan, momen ini bertepatan dengan memanasnya kondisi sosial politik di Tanah Air.
Selain itu, kebutuhan dolar meningkat untuk pembayaran utang luar negeri dan pembiayaan impor barang modal. Faktor musiman ini turut menambah tekanan terhadap rupiah.
Rupiah dan Mata Uang Asia: Siapa yang Terkuat dan Terlemah?
Tekanan rupiah sejalan dengan tren regional. Beberapa mata uang Asia juga melemah pekan ini.
-
Peso Filipina: anjlok setelah bank sentral BSP memangkas suku bunga acuan 25 bps ke 5,0%.
-
Rupee India: jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah (88/US$) akibat tarif tambahan dari AS sebesar 25%.
-
Yuan China: justru menguat setelah People’s Bank of China (PBOC) menaikkan kurs tengah harian yuan terhadap dolar dengan margin terbesar dalam setahun.
Langkah PBOC ini dianggap sebagai sinyal strategi baru, dari sekadar menjaga stabilitas menuju dorongan apresiasi bertahap.
Dampak Yuan Kuat Bagi Pasar Global
Yuan yang lebih kuat berpotensi menarik aliran modal kembali ke saham China. Investor global menafsirkan langkah ini sebagai tanda pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Namun, konsekuensinya adalah daya saing ekspor China bisa tertekan karena harga produk menjadi relatif lebih mahal di pasar internasional.
Rupiah di Persimpangan Jalan: Bayangan Krisis 1998?
Situasi yang dihadapi Indonesia saat ini mengingatkan pada dua periode kelam:
-
Krisis 1998: Rupiah sempat jatuh ke level Rp16.000/US$ disertai kerusuhan sosial dan krisis politik.
-
Krisis 2008: Global financial crisis akibat subprime mortgage di AS, meski Indonesia lebih resilien kala itu.
Kini, faktor dalam negeri (demo ricuh) dan faktor global (dolar menguat, inflasi AS) berbaur menjadi tekanan ganda.
Strategi Pemerintah dan Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) menegaskan siap melakukan intervensi di pasar valas untuk menahan pelemahan rupiah yang terlalu cepat.
Selain itu, pemerintah didorong menjaga kepercayaan investor dengan:
-
Memastikan stabilitas politik dan keamanan.
-
Mengendalikan defisit transaksi berjalan.
-
Menarik investasi jangka panjang untuk memperkuat cadangan devisa.
👉 Lihat juga update kurs resmi di Bank Indonesia
Prospek ke Depan: Bisa Rebound, Bisa Jatuh Lebih Dalam
Ada dua skenario besar bagi rupiah dalam beberapa pekan mendatang:
-
Rebound – jika demonstrasi mereda, situasi sosial kondusif, dan inflasi AS lebih rendah dari perkiraan → dolar melemah → rupiah menguat.
-
Lanjut Melemah – jika demo berlanjut, aksi anarkis merebak, dan dolar AS menguat karena The Fed hawkish → rupiah bisa tembus level psikologis Rp16.700–Rp17.000/US$.
Kesimpulan
Rupiah sedang diuji oleh tekanan ganda: politik domestik & dinamika global. Demonstrasi yang berujung ricuh menambah trauma lama, bayangan krisis 1998 kembali muncul.
Namun, peluang pemulihan masih ada. Kuncinya adalah stabilitas politik dalam negeri dan kebijakan moneter global. Jika kedua faktor ini berpihak, rupiah bisa bangkit kembali.
Daftar Isi [Tutup]
0 Komentar
Posting Komentar